Kalau mahu dibandingkan Malaysia dan Indonesia, rasanya "sinetron" di Malaysia lebih punya banyak aksi, tapi membosankan. Sinetron Indonesia dimainkan di kotak - kotak telivisi, "sinetron" Malaysia punya bedanya yang tersendiri. "Sinetron" kita disajikan di dada akhbar dan saluran rasmi penguasa negara. Plotnya mudah dibaca kerana jalan ceritanya terlalu klise sejak dari dulu. Jika sinetron Indonesia bisa meleret hingga beratus - ratus episod, apa kurangnya "sinetron" Malaysia. Ceritanya mungkin berkisar tentang seluar dalam, tentang cecair cinta, tentang curi kecil - kecilan (yang besar sering kali dikaburi), tentang siapa jolok siapa, cerita tentang senggama, seringnya senggama luar biasa. Dan yang pasti, bila luar biasa senggamanya, pasti luar biasa liputannya.
Berbeda dengan Indonesia yang menyajikan sinetron buat rakyatnya gembira dan sedih bersama, "Sinetron" Malaysia selalu buat penontonya keliru sama cerita - cerita bohongnya yang buat rakyat keliru dan sekaligus mencacatkan minda penontonnya. Kita sering tertanya - tanya, betulkah? Tipukah?. Persetan semuanya. "Sinetron" Malaysia tidak lain tidak bukan hanyalah sekadar lencongan buat kaburi mata kita dari isu atau permasalahan yang lebih besar. Memetik kata - kata Hishammudin Rais : - "Di Malaysia ini, jika kucing menunggang basikal, pasti jadi tajuk utama". Jarang sekali kita dengar "Sinetron" Malaysia membicarakan isu ekonomi secara terperinci atau bahasa rakyatnya secara "betul - betul" pada khalayaknya. Kita disuap dan disudu dengan kenyataan seperti :- "pertubumbuhan KDNK meningkat dengan rancak". Bullshit!. Sedangkan yang kita semua tahu dan sedar ekonomi kita dalam keadaan yang mengecewakan atau sekadar cukup - cukup makan. Kenyataan yang dilaungkan tidak ubah seperti memberi gula - gula kepada kepada anak kecil yang belum tahu membaca. Kita yang dibawah ini merasa betapa peritnya hidup dalam keadaan harga produk konsumer yang serba meningkat ini. Hentikan dialog retorik didalam "Sinetron" Malaysia yang berbau penguasa itu.
Ini bukan zaman dulu - dulu. Bukan zaman pasca Merdeka (Merdeka kah kita?). Pengarah - pengarah "sinetron" ini wajib bertukar gaya fikrahnya. Langsung dari berubah fikrahnya maka akan berubah corak pengolahan dan gaya pengarahan "sinetron"nya. Sedangkan Shamsul Yusof pun boleh keluar dari gaya pengarahan bapanya Yusof Haslam. Masakan pengarah - pengarah "sinetron" ini tidak bisa. Maaf terlupa. Pengarah - pengarah ini pengarah penakut barangkali. Perlu diingat yang penonton sekarang jauh lebih bijak dalam menilai bahan tontonannya. Punya lebih informasi dari generasi sebelumnya. Atau mungkin, tuan punya "sinetron" atau lebih manis "penerbit" (pemberi dana) kepada pengarah - pengarah ini, tidak membenarkan perubahan ini sama sekali. Mereka masih percaya yang penonton masih boleh ditipu dengan cerita - cerita adiwira penipu.
Penerbit ini memberi dana kepada pengarah untuk membina imej mereka melalui "sinetron" yang ditayangkan. Dalam hal ini, penerbit mahu menjadi juaranya. Biar nampak hebat dimata mangsanya. Pengarah - pengarah ini patuh dengan skrip yang telah ditetapkan sang penerbit a.k.a penguasa. Masakan anjing mahu menggigit tuannya. Agak keterlaluan bahasanya tapi itu realitinya.
Mujur sekali dizaman serba tahu ini, penonton punya pilihan dalam melampiaskan keperluan percambahan mental mereka. "Sinetron" Malaysia biasanya bertema "governmental" (itu rukunnya, manakan bisa mereka mahu melawan) dalam skrip dan tutur katanya. "Sinetron" ini wajib mengangkat penerbitnya sebagai "grand architect" dalam setiap "sinetron" yang dihasilkan. Disurahkan seolah - olah penerbit itu sebagai satu entiti yang maksum dan langsung tiada cacat celanya. Jika diperhatikan mereka - mereka ini gemar dan sudah seperti menjadi satu kewajipan untuk menggunakan terma - terma seperti pembela, juara, pelindung yang perkasa (oops) buat rakyat. Barangkali mereka mahu kita melihat mereka sebagai adiwira yang akan datang bila kita dalam kesusahan atau sebenarnya mengelentong kita dalam sedar. "They cheat us, when they feed us with the lie". Tapi seringkali kita melihat mereka seperti adiwira yang bodoh. Seperti Superman memakai seluar dalam. Dan pastinya masih ada yang memuja kebodohan ini. Seperti anak - anak kecil - kecil gembira ditipu Superman dipeti telivisi.
Kemunculan media baru dalam menyampaikan cerita - cerita negara banyak memberi impak pada kesan penetrasi "Sinetron" Malaysia. Kita sebagai penonton cukup bijak untuk menilai mana yang betul dan mana yang palsu (atau merepek barangkali). Moga satu hari nanti "Sinetron" Malaysia akan berubah wajah, jalan cerita, dan cara penyampaiannya bila bertukar penerbit (penguasa). Kita sebenarnya "grand architect" sinetron ini, bukan penerbit atau pengarah - pengarah ini. Negara kita punya lebih dari 28 juta manusia dan punya macam - macam cerita yang lebih indah daripada cerita senggama manusia luar biasa.
No comments:
Post a Comment